|
|
|
Contributors |
Bab 4> Nggak mau kalah : Ada Tawuran.
Dziiing...Pranggg... Kraaakkk... Melihat piring-piring, gelas, sendok, pisau berterbangan, dan para bajak laut bertumpang tindih baku hantam dalam Penakluk Samudra Seafood adalah hal yang sangat biasa bagi La Traviata. Ini terjadi jika malam telah berganti pagi, di saat para bajak laut pelanggan mulai terlalu banyak menenggak alkohol. Satu orang saja mencari masalah, maka muncullah keributan. Awalnya hal ini menyebalkan bagi La Traviata, ini membuatnya tidak tenang, karena jika terjadi maka persediaan peralatan makannya berkurang. akhirnya, La Traviata menemukan sebuah solusi. Menggunakan peralatan makan plastik dan styrofoam. (eh bentar, emang udah ada ya, plastik dan styrofoam pada zaman itu? Mmm.. au ah..lanjuuuut....) Dan malam ini terjadi lagi. Berawal dari seorang bajak laut, yang didengarnya bernama Kapten Van Basten, yang sangat mabuk. Malam itu ia minum terlalu banyak, selain karena kedinginan akibat bajunya yang basah karena tercebur di laut, ia juga sedikit frustasi. Tyo mata satu, telah menyelamatkan nyawanya dari hantaman peluru Joe Kaki Kayu, seminggu yang lalu. Tyo-mata-satu. Musuh bebuyutannya. Bagi kapten Van Basten, diselamatkan oleh seorang musuh adalah hal yang menggores egonya. Lebih baik ia mati, daripada diturunkan dengan sekoci. Ditengah laut, terkatung-katung dalam geram, sampai akhirnya ia ditemukan oleh sebuah kapal dagang yang berlabuh di pantai timur Mooi Hindie ini. Kapten Van Basten dalam mabuknya terus meracau, dan membuat sebal seorang bajak laut lain, entah siapa namanya, bertubuh gendut, berwajah dan berambut berminyak yang kelihatannya sangat bau dan tidak kalah mabuknya. Racauan Kapten Van Basten membuat si bajak laut berminyak berang. Ia meninju hidung Van Basten. Van Basten melawan, ia adalah seorang Kapten yang pantang ditentang, peninjuan pada hidungnya benar-benar membuat Kapten Van Basten tersinggung. Perkelahian antara dua orang mabuk itu berlanjut dan merembet. Kini semua bajak laut, tanpa perduli memiliki masalah atau tidak, berbaur jadi satu, berbaku hantam. Piring-piring, gelas, sendok, yang untungnya telah diganti oleh plastik dan styrofoam berterbangan.Disusul meja dan kursi. La Traviata hanya menghela nafas. Pekerjaannya bertambah besok. Membereskan sisa-sisa perkelahian malam ini. Hhh.. saya muak.Saya ingin pergi Begitu keluh La Traviata. Ia berdiri di balik gorden pembatas antara dapur dan ruang makan. Sesekali ia merunduk agar kepalanya tidak tersambar kursi terbang.Dengan sabar, La Traviata menunggu agar perkelahian usai. Sementara, seperti biasa, jika perkelahian dimulai, Bon Avatar pasti menjadi orang pertama yang bersembunyi. AAAARRRRGHHHH! La Traviata terkejut mendengar erangan. Ia membelalakan mata, untuk melihat asal suara. Ternyata bajak laut berminyak, Van Basten menusuk lengan bajak laut berminyak dengan pedang milik bajak laut berminyak sendiri. Bajak Laut berminya terlihat kesakitan. Tiba-tiba darah La Traviata mendidih. Ia menyibakkan gorden, naik ke atas meja bar, setelah mengambil pistol dari pinggang Bon Avatar yang sibuk sembunyi sambil terkencing-kencing karena ketakutan. Ia mengarahkan moncong pistol ke udara, lalu menarik pelatuknya. DOR! Langit-langit bolong tertembus peluru. Semua orang dalam ruangan membeku, memandang perempuan ini. "CUKUP! PERGIIIIIIIIIIIII!" La Traviata menjerit. Dan, dalam hitungan jenak, bajak laut-bajak laut itu tunggang langgang keluar dari Penakluk Samudra Seafood, menghilang dalam kegelapan malam (pagi? eh subuh deng), entah kemana, mungkin menuju kapal masing-masing untuk melanjutkan perjalanan. Kini Penakluk Samudra telah kosong. Blas. "Sudah pada pergi?" tanya Bon Avatar. Kecongkakannya hilang, kini ia terlihat seperti anak anjing yang sedang ketakutan. "Sudah... keluar kamu..., bantu saya membereskan Penakluk Samudra" seru La Traviata tidak perduli. ![]() |
0 Comments:
Post a Comment
<< Home