|
|
|
Contributors |
Bab 3> Yang Ada Perangnya
Pekik peperangan, jerit kesakitan, bunyi ledakan, dan desing peluru berbaur menjadi satu. Bau keringat, darah, asap, dan mesiu memenuhi udara. Tyo Mata Satu menerjang ke depan, pedang di tangan kanan, pistol di tangan kiri menghabisi mereka yang berani atau cukup tolol untuk menghalangi langkahnya. Di belakangnya, puluhan perompak melompat ke atas geladak, disambut oleh para serdadu yang telah menunggu.Taktik Tyo dalam pertempuran seperti ini selalu sama: taklukkan kapten kapal dan paksa dia memerintahkan awaknya menyerah. Di tengah-tengah kepulan asap yang kian menghitam seiring api yang semakin merajalela, Tyo melihat apa yang dicarinya. Anjungan. Tempat sang kapten. Beberapa menit dan belasan korban berikutnya, Tyo menyerbu masuk. Tiga orang bajak laut masuk bersamanya dan mengambil posisi. Kapten van Basten tahu nasib yang menantinya bahkan sebelum ia mengangkat kepala dan menemukan dirinya bertatapan dengan mata tunggal yang menatap tajam penuh kebengisan. "Ajalmu di sini, Kapten. Cara mana yang kau pilih?" Beberapa orang serdadu dan awak kapal yang ada di anjungan memberikan perlawanan singkat. Tak lama kemudian semuanya, berikut ketiga bajak laut, rubuh bersimbah darah. Kapten van Basten membidikkan pistolnya. Tyo menunduk dan peluru mendesing lewat tidak jauh dari telinga kirinya. Ia menyeringai. Tyo Mata Satu menyukai perlawanan. Ia hendak meluruk ke depan ketika rasa sakit tiba-tiba menyengat bahu kanannya. Dari belakang. Kehilangan pedang di tangan, secara refleks Tyo membalikkan badan dan bertiarap pada saat yang bersamaan. Peluru kedua menembus paha kanannya. Tyo berteriak kesakitan. Momentum peluru itu membuatnya terguling dan pistol di tangan kirinya terjatuh. Di ambang pintu Letnan Makaay berdiri dengan pedang terhunus dan pistol merah berasap. Sejenak ia bertatapan dengan bajak laut yang telah diburunya bertahun-tahun. Bajak laut yang telah membunuh kakak lelakinya beberapa tahun lalu. Bajak laut yang kini terbaring tak berdaya di lantai. Pandangan Tyo dengan liar menyapu ruangan, mencari cara untuk keluar dari masalah pelik yang dihadapinya. Pistolnya terlalu jauh untuk dijangkau. Ia bisa saja meraih pedangnya, namun dengan lengan kanan yang praktis lumpuh, tidak banyak yang dapat dilakukannya. Tyo Mata Satu, bajak laut paling ditakuti di tujuh lautan, hanya bisa menatap sosok di hadapannya yang kini dengan mata penuh kebencian mengarahkan pistol ke dadanya. Sial, demikian ia sempat berpikir. Ia tahu suatu hari saatnya akan tiba. Ia hanya tidak suka menemui maut dengan cara seperti ini. "Ini untuk Roy..." Tyo mendengar letnan itu berkata. Roy? Roy siapa? Tidak masalah, Tyo yakin telah banyak Roy yang menemui ajal di tangannya. Pistol meletus. Tyo berusaha keras melawan godaan untuk memejamkan mata dan bersiap menerima benturan di dada. Tidak ada yang menyentuhnya. Dengan satu matanya yang masih berfungsi Tyo menatap Letnan Makaay menjatuhkan pistol dan jatuh terguling. Bagian belakang kepalanya berasap. Joe Kaki Kayu muncul di ambang pintu dengan pistol terarah ke dada Kapten van Basten, yang menyadari keajaiban tidak akan datang dua kali. "Pilihanmu, Kapten." ![]() |
0 Comments:
Post a Comment
<< Home