Powered by Blogger

Bab 2> Penakluk Samudra Seafood
oleh mamamolilo pada 2:30 PM

Penakluk Samudra Seafood, itu nama sebuah restoran yang berada di tepi sebuah pantai di daerah Timur negara Mooi Hindie. Bukan berupa bangunan, tapi berupa kapal besar yang badannya bercat merah-hitam dan sudah terkelupas di sana-sini, dengan layar yang sudah sobek-sobek.

Restoran itu selalu ramai karena sering sekali dikunjungi oleh para bajak laut yang kebetulan berlabuh, entah hanya untuk sekedar beristirahat barang satu-dua jam, mengisi perut, atau minum-minum bir sampai mabuk.

Bon Avatar, laki-laki pemilik restoran tersebut seorang laki-laki pembual, yang selalu mengaku bahwa pernah menjadi seorang bajak laut yang handal dan paling ditakuti oleh bajak laut se-jagad raya. Ia tinggal bersama sang istri, La Traviata.

La Traviata sebenarnya perempuan yang baik, tapi ia tidak pernah menjadi istri yang baik bagi Bon Avatar. Walaupun tugasnya di restoran tersebut sebagai koki dan ia adalah koki yang hebat, tapi ia tidak pernah menyediakan sarapan bagi suami, tidak pernah memasakkan makan siang maupun makan malam, tidak pernah memasangkan dasi (heh? Kok pake dasi ya? Hihihhi), yang jelas ia tidak pernah melakukan hal-hal yang selayaknya dilakukan seorang istri bagi suami.

Kenapa?

Karena La Traviata bosan menjadi istri Bon Avatar, ia jenuh dengan bualan Bon Avatar padanya dan pada bajak laut-bajak laut yang singgah.

“Dulu, aku adalah bajak laut terhebat di jagad ini…” seru Bon Avatar suatu malam, di depan tamu-tamunya, lalu ia menenggak bir yang sedari tadi digenggamnya di tangan sebelah kiri, karena tangan kanannya sudah tidak ada, diganti dengan kait. Pakai kait kan susah, megang botol bow.

La Traviata mencibirkan bibir diam-diam, sambil mengantarkan pesanan makanan, kepiting saus mentega kepada salah satu bajak laut pelanggan.

“Hanya mendengarkan namaku saja, atau melihat kapalku, semua pelaut bahkan yang paling handal sekali pun akan bergetar ketakutan. Aku adalah raja laut. Darahku, sampai mati, adalah laut.Kapalku adalah penakluk laut.” Lanjut Bon Avatar congkak.

La Traviata mengernyitkan kening. Sejak menikah dengan Bon Avatar, belum pernah sekalipun ia melihat Bon Avatar berlayar. Bahkan, kapal yang dimiliki oleh Bon Avatar, yang disebutnya sebagai kapal penakluk laut pun hanya terdampar saja bertahun-tahun di atas pasir. La Traviata curiga, kapal itu mungkin akan segera tenggelam jika dibawa berlayar.

La Traviata adalah anak angkat seorang bajak laut, ia ditemukan oleh ayah angkatnya, yang kini telah mati, di sebuah kapal yang sedang dirampoknya. Sejak kecil La Traviata selalu dibawa berpetualang oleh ayah angkatnya mengarungi samudra.

Ia sangat terbiasa berada di samudra, sang ayah mengajarinya bagaimana menjadi bajak laut, ia tahu bagaimana mengemudikan kapal besar ayahnya, ia tahu harus bagaimana jika cuaca buruk terjadi saat mereka di tengah samudra, ia senang bermain dengan awak kapal ayahnya. Bahkan ketika remaja, ayahnya mengizinkan La Traviata untuk ikut merampok sebuah kapal. Karena itu, ia sangat terobsesi untuk menikahi bajak laut, agar ia dapat terus berpetualang di samudra.

Dalam satu persinggahan La Traviata dan ayahnya di sebuah pelabuhan Mooi Hindie, bertemulah ia dengan Bon Avatar. Ia terpesona mendengar cerita petualangan Bon Avatar, yang belakangan baru ia ketahui hanya bualan belaka. Pengalaman-pengalaman Bon Avatar begitu membiusnya, sehingga ia memutuskan untuk tinggal di pantai Mooi Hindie yang indah.

Tapi pada kenyataannya, setelah menikah dengan Bon Avatar, bukan petualangan yang didapatnya, tapi terjebak menjadi koki di pantai Mooi Hindie. Ia ingin kembali pada ayahnya, tapi sebuah badai yang sangat dashyat, telah menenggelamkan kapal sang ayah beserta para awaknya.

Sampai kini, setelah bertahun-tahun pernikahan mereka, mimpi untuk bertualang di samudra masih tetap menyala di hati La Traviata. Ia hanya menunggu waktu yang tepat.

“…Aku pernah membunuh banyak orang di laut…!!!” seru Bon Avatar dengan keras. La Traviata mendengus lalu membuang muka.

Ia masuk ke dalam dapur kembali.

0 comments

0 Comments:

Post a Comment

<< Home